Wednesday, May 28, 2008

Mengenang Ungku Zaiwir Hamzah (19 Juli 1943- 24 Mei 2008)


Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raa'jiun

Telah meninggal dunia dengan tenang, Ungku Daffa , H.Zaiwir Hamzah pada hari sabtu 24 Mei 2008 pukul 9.50 pagi di Bogor.

Sore itu awal tahun 2001, bapak bertemu lagi dengan Ungku dan Oma yang baru datang dari Padang dirumah Tante Riza. Sore itu begitu berkesan bagi bapak karena saat itulah meski bapak belum melakukan lamaran resmi, tapi keinginan kuat bapak untuk meminang Ibu Daffa sudah menjadi pengetahuan Ungku dan Oma.

Ungku dan Oma mengajak bapak untuk berbicara 6 mata perihal hal tersebut. Ungku menanyakan bagaimana keseriusan bapak terhadap ibu Daffa. Ungku ingin memastikan bahwa setelah menikah dengan bapak nanti, ibu Daffa tidak disia-siakan oleh bapak.

Bapak menjawab, bahwa setiap orang nantinya akan dimintai pertanggung-jawabannya oleh Allah di Akhirat. Perbuatan baik akan dibalas, demikian pula dengan perbuatan jahat. Bisa saja saat itu bapak berjanji kepada Ungku tapi belum tentu bisa bapak tepati. Bapak hanya bisa berniat dan biarlah Allah yang menyaksikan. Sepertinya Ungku memahami jawaban bapak dan menyetujui niat bapak. Saat itu bapak sangat terkesan dengan Ungku.

Akhirnya bapak dan ibu daffa bertunangan dilanjutkan dengan menikah di tahun 2001.

Ketika Ibu hamil dan akhirnya melahirkan Daffa di tahun 2004, Ungku dan Oma merelakan waktunya untuk membantu menjaga dan mendidik Daffa di rumah kontrakan kami di Pasar Minggu. Meski harus bolak-balik Pasar Minggu-Bogor dengan menyetir sendiri dengan keadaan tidak sepenuhnya sehat karena pernah operasi jantung, Ungku dengan ikhlas melakukannya demi kami dan Daffa.

Ungku tinggal bersama kami meski hanya pulang sabtu minggu ke bogor sampai Daffa berusia sekitar 2 tahunan saat kami pindah ke Cibubur. Setelah itu Ungku lebih sering tinggal di Bogor sehingga Daffa akhirnya sering boyongan Bogor seminggu-dua minggu demikian pula di Cibubur.

Bapak dulu dengan egois menganggap bahwa hal-hal positif yang ditunjukkan oleh Daffa adalah berkat hasil pendidikan yang diberikan oleh Bapak dan Ibu. Ternyata hal itu salah besar. Dengan waktu yang diberikan oleh Ungku dan Oma kepada Daffa selama kami berdua bekerja, contoh teladan dan pelajaran sudah tentu lebih banyak Daffa dapatkan dari mereka berdua dibanding dari kami. Setelah Ungku tiada, hal tersebut baru bapak rasakan dan pahami.

Selama bapak mengenal Ungku hampir 8 tahun, begitu banyak contoh kehidupan yang bapak dapatkan sebagai pelajaran dari Ungku. Kelembutan Ungku, kesederhanaan Ungku, Disiplin Ungku khususnya masalah sholat tepat waktu, kebijaksanaan Ungku dan banyak lagi hal positif lainnya.

Sebagai menantu, bapak pernah bertekad untuk menjadi menantu kesayangan Ungku dengan memberikan yang terbaik karena Ungkupun memberikan yang terbaik kepada kami. Buktinya ada dalam diri Daffa. Meski bapak tidak dapat benar-benar menjadi menantu yang bisa diandalkan oleh Ungku, setidaknya bapak merasa bisa jadi teman berbincang dan berdiskusi Ungku tentang berbagai hal dari masalah kehidupan, sosial, politik, keagamaan, dll.

Saat Ungku meninggal sabtu lalu, bapak merasa bangga memiliki mertua seperti beliau. Betapa para tetangga dan saudara dengan tanpa diminta memberikan bantuan tanpa ada yang komando. Kami yang masih shock ditinggal beliau sampai tidak tahu apa yang harus dilakukan tapi para tetangga dan saudara sepertinya sudah tahu apa tugasnya masing-masing. Ada yang mengurus pemakaman dan perniknya, ada yang mengurus tenda, mengurus keterangan kematian di rt/rw dan kelurahan, menyediakan kendaraan, makanan dan minuman dan segala hal lainnya. Mereka begitu menghargai Ungku dan merasa kehilangan.

Bebarapa komentar saudara, tetangga, teman dan masyarakat seperti,
-Ungku adalah ahli ibadah, tidak pernah sekalipun selagi sehat Ungku tidak sholat berjamaah di mesjid meski hari hujan.
-Senyum Ungku yang senantiasa menghias bibirnya dan keramahan beliau kepada semua orang.
-Kelembutan Ungku dan kesederhanaannya.
Bahkan tukang sampah, pedagang di rumah maupun di pasar yang menjadi langganan Ungku terkejut dan mendoakan Ungku. Belum lagi teman dan saudara Ungku di Padang.

Begitu banyak teladan dan contoh yang telah diberikan Ungku kepada kami anak-anaknya. Semoga kami bisa menjadi anak sholeh dan sholehah karena doa anak sholeh dan sholehah adalah salah satu dari 3 hal yang bisa makin meningkatkan derajat Ungku dimata Allah.

Selamat jalan Ungku, selamat menempuh hidup baru. Hidup di sisi Allah, semoga kami juga bisa seperti Ungku mendapatkan karunia terbesar, menemui dan melihat Allah di akhirat kelak. Amin Ya Rabbal Alamin.

5 comments:

Mama Azka said...

Hiks..hiks...ikut terharu bacanya...

Almarhum begitu mengagumkan yah...sampe speechless nih aku...

mama icel said...

ocha,ungku orang yg baik pasti mendapat tempat yg baik juga disana...

dwiwoelan said...

Mbak Ocha..
Kenangan tentang Almarhum begitu indah yaa dan bisa jadi tauladan bagi semua..
Semoga beliau mendapat tempat yang indah disana..

Ocha said...

Teman-teman...terima kasih...tulisan ini ditulis oleh Bapaknya Daffa..karena begitu kehilangan sekali dia ditinggal mertua-nya yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri....Begitu bangga-nya dia terhadap mertuanya...selama ini dia simpan sendiri...sekarang dia curahkan ditulisan ini...

Bunda Nayla said...

Innalillaahi wainnailaihi roojiun. Memabaca postingan mbak. Saya yakin Almarhum pasti mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya.aaamiiinnnn